Banyak dari kita khususnya orang muslim lagi menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh walaupun sekarang sudah memasuki minggu kedua, dan mungkin aku juga menyadari dari kita ada yang takut dan ragu-ragu berpuasa, karena banyak sekali alasan takut merasakan perut yang perih, tenggorokan yang kering kerontang, intinya mau rebahan saja sambil menunggu waktu adzan magrib berkumandang dan ini aku rangkum dari pria seratus persen.
Wajar saja karena kita ini manusia biasa yang punya insting dasar buat bertahan hidup, tapi kali ini akan aku coba pakai sudut pandang yang berbeda dari rasa sakit dan lapar itu. Dunia modern saat ini dan segala kemudahannya sudah mencuci otak kita buat percaya kalau kenyamanan adalah segalanya, dan rasa lapar adalah penderitaan yang harus buru-buru dihilangkan, padahal kebenaran yang ditutupi dari pria zaman sekarang ini adalah pria yang lapar itu sakti, tajam, dan berbahaya, daripada pria yang perutnya buncit-buncit.
Ini konsep sudut pandang yang lain ya, coba kita renungkan sejenak dan tarik ingatan ke masa lalu, dimana sejarah dunia dulu diukir oleh pedang, panah, perisai dan darah, tepatnya di zaman kepemimpinan salah satunya sahabat nabi Muhammad SAW, yaitu Umar bin khatab beliau ini bukan cuma pemimpin dia juga jendral dan arsitek, penakluk dua kekaisaran raksasa masa lalu yaitu romawi dan persia.
Mungkin kita berpikir pasukan umar menaklukkan peradaban-peradaban elit itu dengan sebatas makan enak, perut kenyang dan tidur dikasur? jawabannya sudah pasti Enggak sama sekali. Pasukan muslim saat itu menembus badai pasir, berjalan puluhan kilo dengan perut kelaparan, pakaian seadanya, dan perbekalan yang minim.
Tapi justru di situlah letak kesaktian mereka, Umar bin Khattab sendiri, sang khalifah yang wilayah kekuasaannya membentang dari afrika utara sampai Asia tengah menolak keras untuk hidup nyaman, beliau memilih tidur diatas tikar pelepah kurma sampai punggungnya berbekas.
Dan makannya cuma roti gandum kasar yang dicelup minyak zaitun, umar sengaja membiarkan dirinya dan pasukannya tetap akrab dengan rasa lapar dan ketidaknyamanan, bahwasanya dia paham kalau kenyamanan adalah racun bius yang akan melembekan mental petarung.
Singa padang pasir yang lapar dan penuh luka akan selalu memenangkan petarungan yang hanya sebatas anjing peliharaan belaka. Nah sekarang pola pikir yang sama harus kita tanamkan di diri kita, secara psikolog dan biologis saat perut telah terisi penuh aliran darah kita akan terkonsentrasi di sistem pencernaan yang akan menjadikan ngantuk, malas gerak, lamban, dan gampang banget merasa puas.
Begitu pula otak kita tumpul karena tidak ada urgensi buat berjuang, dan dimana kenyamanan membunuh ambisi kita pelan-pelan tanpa kita. Tapi sebaliknya dalam kondisi perut kita kosong dan lapar itu bikin tubuh kita otomatis masuk ke mode bertahan hidup, atau bisa juga survival mode yang paling murni.
Daan otak kita melepaskan hormon-hormon yang memaksa kita super waspada dari semua gangguan, distraksi dan lain sebagainya. Indra kita jadi lebih peka, fokus juga setajam silet, dan kreativitas keluar tanpa batas, lapar pula mengubah kita dari seorang korban keadaan yang cuma bisa mengeluh rebahan, menjadi seorang predator yang siap mengejar mangsanya tanpa ragu sedikitpun.
Comments